GANGGUAN EREKSI – DISFUNGSI SEKSUAL


I.   Pendahuluan

Disfungsi Seksual adalah kesulitan dalam berhubungan seksual yang biasanya bersifat psikosomatis. Disfungsi seksual pada pria meliputi: (1) disfungsi ereksi, (2) impotensi, (3) hubungan seksual tidak sempurna, (4) ejakulasi dini, dan (5) gangguan hasrat/keinginan seksual.

Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan hubungan seksual (intercourse) dengan pasangan.

Disfungsi ereksi terdiri dari dua macam yaitu disfungsi ereksi primer adalah penis sejak semula tidak dapat ereksi yang cukup untuk dapat melakukan intromision (penetrasi) pada vagina yang berarti penderita tidak pernah berhasil melakukan hubungan seksual. Disfungsi ereksi sekunder menjelaskan penderita sebelumnya pernah berhasil melakukan intercourse, tetapi kemudian gagal karena suatu sebab yang menganggu ereksi. Disfungsi ereksi merupakan salah satu disfungsi seksual  pria yang banyak dijumpai, selain ejakulasi dini.

 

II.        Patofisiologi Disfungsi Ereksi

Penyebab disfungsi ereksi dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor fisik dan faktor psikis/psikologi.

Penyebab Fisik Disfungsi Ereksi

Yang termasuk kedalam faktor fisik adalah semua gangguan atau penyakit yang  berkaitan dengan gangguan hormon, pembuluh darah, dan saraf.

Salah satu penyebab fisik utama disfungsi ereksi adalah aterosklerosis arteri – arteri penis. Pada aterosklerosis, aliran darah ke penis berkurang dan terjadi penurunan kemampuan arteri – arteri penis untuk berdilatasi sewaktu perangsangan seksual , yang menyebabkan terbatasnya pembengkakan. Penyebab fisik lainnya adalah penayakit – penyakit sistemik misalnya hipotiroidisme, akromegali dan yang tersering diabetes mellitus. Diabetes terutama dihubungkan dengan aterosklerosis serta neuropati ( kerusakan saraf ). Pada tingkat sel , gangguan patofisiologis yang berperan pada ED  (Erectile dysfunction, ED) adalah hipersensitivitas otonom, penurunan pembentukan nitrat oksida oleh prostat dan otot – otot polos pembuluh darah penis dan disfungsi sel – sel endotel. Serta penyakit gangguan fungsi hati, gangguan kelenjar gondok, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, tekanan darah rendah, penyakit jantung dan penyakit ginjal yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Selain karena penyakit, ED karena penyebab fisik dapat juga karena gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok berlebihan, alkohol berlebihan, penyalahgunaan obat, dan kurang tidur.

Disamping faktor – faktor fisik , banyak obat diketahui mengganggu kemampuan pria untuk mencapai ereksi dan atau orgasme, seperti obat antihipertensi (metildopa, alfa blocker, beta blocker, reserpine), diuretika (thiazide, sprinolactone, furosemid), antidepresan (amitryptilin, imipramin), antipsikotik (chlorpromazine, haloperidol, fluphenazine, trifluoperazine), antiandrogen (estrogen, flutamid), H2-blockers (cimetidine), simpatomimetik yang sering digunakan untuk pengobatan asma, flu, obesitas. ED juga dapat timbul setelah pembedahan didaerah genital, misalnya setelah kanker prostat. Keletihan kronis atau akut dapat menyebabkan ED.

Usia merupakan faktor resiko utama untuk disfungsi ereksi. Proses penuaan sangat mempengaruhi kemampuan ereksi seorang laki-laki, bahkan disfungsi ereksi dapat digolongkan sebagai kelainan yang berhubungan dengan usia.

 

Penyebab Psikologis Disfungsi Ereksi

Disfungsi ereksi psikologis dapat terjadi akibat adanya aktivasi impuls – impuls inhibitorik desendens yang berasal dari korteks serebrum. Keadaan psikologis yang berkaitan dengan ED adalah stress, rasa marah, rasa cemas, kejenuhan, perasaan bersalah, takut tidak bisa memuaskan pasangan (depresi), hilangnya daya tarik pasangan.

III.       Identifikasi

Identifikasi disfungsi ereksi dapat dilakukan dengan salah satu cara yaitu mengkaji indeks fungsi ereksi diantaranya dengan International Index of Erectile Function-5 (IIEF-5) yang terdiri dari 5 item pertanyaan dengan setiap item pertanyaan di beri rentang skor 0-5. Berikut ini merupakan 5 item pertanyaan tersebut:

Pada setiap pertanyaan telah disediakan pilihan jawaban. Orang yang sedang dievaluasi diminta memilih yang paling sesuai dengan kondisi orang tersebut 6 bulan terakhir. Pilihan hanya satu jawaban untuk setiap pertanyaan.

  1. Bagaimanakah tingkat keyakinan anda bahwa anda dapat ereksi dan bertahan terus selama hubungan intim ?

1 = Sangat rendah
2 = Rendah
3 = Cukup
4 = Tinggi
5 = Sangat tinggi

  1. Pada saat anda ereksi setelah mengalami perangsangan seksual, seberapa sering penis anda cukup keras untuk dapat mamsuk ke vagina pasangan anda?

1= Tidak pernah / hampir tidak pernah
2= Sesekali (<59%)
3= Kadang – kadang (±50%)
4= Seringkali >50%
5= Selalu / hampir selalu

  1. Setelah penis masuk ke vagina pasangan anda, seberapa sering anda mampu mempertahankan penis tetap keras?

1= Tidak pernah / hampir tidak pernah
2= Sesekali (<50%)
3= Kadang – kadang (±50%)
4= Seringkali >50%
5= Selalu / hampir selalu

  1. Ketika melakukan hubungan intim,seberapa sulitkah mempertahankan ereksi sampai selesai melakukan hubungan intim?

1= Teramat sangat sulit
2= Sangat sulit
3= Sulit
4= Sulit sekali
5= Tidak sulit

  1. Ketika anda melakukan hubungan intim, seberapa sering anda merasa puas?

1= Tidak pernah / hampir tidak pernah
2= Sesekali (<50%)
3= Kadang – kadang (±50%)
4= Seringkali >50%
5= Selalu / hampir selalu

Skor : ________

Kemudian lima pertanyaan tersebut dijumlah skornya. Jika skor tersebut kurang atau sama dengan 21, maka orang tersebut menunjukkan adanya gejala – gejala disfungsi ereksi.

 

IV.       Perangkat Diagnostik

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda hipogonadisme (termasuk testis kecil, ginekomasti dan berkurangnya pertumbuhan rambut tubuh dan janggut) memerlukan perhatian khusus. Pemeriksaan penis dan testis dikerjakan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan bawaaan atau induratio penis. Bila perlu dilakukan palpasi transrektal dan USG transrektal. Tidak jarang ED disebabkan oleh penyakit prostat jinak ataupun prostat ganas atau prostatitis.

Pemeriksaan rektum dengan jari (digital rectal examination), penilaian tonus sfingter ani, dan bulbo cavernosus reflek (kontraksi muskulus bulbokavernous pada perineum setelah penekanan glands penis) untuk menilai keutuhan dari sacral neural outflow. Nadi perifer dipalpasi untuk melihat adanya tanda-tanda penyakit vaskuler. Dan untuk melihat komplikasi penyakit diabetes ( termasuk tekanan darah, ankle bracial index, dan nadi perifer ).

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium yang dapat menunjang diagnosis ED antara lain: kadar serum testosteron pagi hari (perlu diketahui, kadar ini sangat dipengaruhi oleh kadar luteinizing hormone). Pengukuran kadar glukosa dan lipid, hitung darah lengkap (complete blood count), dan tes fungsi ginjal.

Sedangkan pengukuran vaskuler berdasarkan injeksi prostaglandin E1 pada corpora penis, duplex ultrasonography, biothesiometry, atau nocturnal penile tumescence tidak direkomendasikan pada praktek rutin/sehari-hari namun dapat sangat bermanfaat bila informasi tentang vascular supply diperlukan, misalnya, untuk menentukan tindakan bedah yang tepat.

 

V.      Penatalaksanaan Disfungsi Ereksi

Prinsip penatalaksanaan dari disfungsi seksual pada pria dan wanita adalah sebagai berikut:

  1. Membuat diagnosa dari disfungsi seksual
  2. Mencari etiologi dari disfungsi seksual tersebut
  3. Pengobatan sesuai dengan etiologi disfungsi seksual
  4. Pengobatan untuk memulihkan fungsi seksual, yang terdiri dari pengobatan bedah dan pengobatan non bedah (konseling seksual dan sex theraphy, obat-obatan, alat bantu seks, serta pelatihan jasmani).

Pada kenyataannya tidak mudah untuk mendiagnosa masalah disfungsi seksual. Diantara yang paling sering terjadi adalah pasien tidak dapat mengutarakan masalahnya semua kepada dokter, serta perbedaan persepsi antara pasien dan dokter terhadap apa yang diceritakan pasien. Banyak pasien dengan disfungsi seksual membutuhkan konseling seksual dan terapi, tetapi hanya sedikit yang peduli. Oleh karena masalah disfungsi seksual melibatkan kedua belah pihak yaitu pria dan wanita, dimana masalah disfungsi seksual pada pria dapat menimbulkan disfungsi seksual ataupun stres pada wanita, begitu juga sebaliknya, maka perlu dilakukan dual sex theraphy. Baik itu dilakukan sendiri oleh seorang dokter ataupun dua orang dokter dengan wawancara keluhan terpisah. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terapi atau penanganan disfungsi seksual pada kenyataanya tidak mudah dilakukan, sehingga diperlukan diagnosa yang holistik untuk mengetahui secara tepat etiologi dari disfungsi seksual yang terjadi, sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan yang tepat pula.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen disfungsi ereksi menyangkut terapi psikologi, terapi medis dan terapi hormonal yaitu:

  • Terapi psikologi yaitu terapi seks atau konsultasi psikiatrik, percobaan terapi (edukasi, medikamentosa oral / intrauretral, vacum contricsi device).
  • Terapi medis yaitu terapi yang disesuaikan dengan indikasi medisnya
  • Terapi hormonal yaitu jika tes laboratoriumnya abnormal seperti kadar testoteron rendah , kadar LH dan FSH tinggi maka diterapi dengan pengganti testoteron. Jika Prolaktin tinggi, maka perlu dipertimbangkan pemeriksaan pituitary imaging dan dikonsulkan.

Manajemen disfungsi ereksi ada 2 macam, yaitu manajemen umum dan manajemen khusus.

Manajemen Umum

Pengendalian kadar gula ketat merupakan usaha paling baik. Subyek dengan neuropati diabetik, setelah pemberian tolrestat atau aldose reductase inhibitor (ARI) jangka panjang, hanya didapatkan kerusakan saraf ringan serta didapatkan regenerasi serabut saraf, normalisasi hubungan akson – glial dan demielinasi segmental.

Usaha lain yang dapat dilakukan ialah upaya meningkatkan proses regenerasi dengan pemberian nerve growth factor (NGF), brain derived neurotrophic factor (BDNF).

NGF merupakan faktor neurotropik penting yang mendorong kehidupan neuron sensoris erabut kecil dan neuron simpatis sistem saraf perifer. BDNF mendorong hidupnya serabut saraf sensoris ukuran sedang yang menjadi perantara sensasi tekanan dan saraf motoris.

Terapi nutrisi akhir – akhir ini banyak dikembangkan meskipun belum ada uji klinis memadai.

Manajemen Khusus

Pada manajemen khusus meliputi terapi non bedah dan terapi bedah / operatif yaitu:

Ø    Terapi non bedah / medis :

  • Farmakoterapi oral, misalnya yohimbin, sildenafil sitrat, vardenafil, alprostadil,   papaverin HCL, fenoksibenzamin HCL, Aqueous testosterone injection, transdermal testosteron, bromocriptiine mesylate, apomorfin, fentolamin, ganglioid, linoleat – gamma, aminoguanidin, metilkobalamin.
  • Injeksi intrakavernosa
  • Pengobatan kerusakan vena
  • Pengobatan hormonal
  • Terapi intraurethral pellet (MUSE)
  • Terapi external vacuum

Ø       Terapi Bedah

1.      Prostesis penis

Termasuk terapi yang sangat sukses walaupun pasien dapat memilih atau
mempertimbangkan terapi yang lain. Pembedahan penis kemudian dilanjutkan dengan pemasangan implant / protesa ini sangat rendah tingkat morbiditas dan mortalitasnya.

 

 

 

a. Semirigid or malleable implant rod implants

Kelebihannya:

  • Teknik bedah sederhana
  • Komplikasi relatif sedikit
  • Tidak ada bagian yang dipindah
  • Implant yang sedikit atau tidak mahal
  • Tingkat keberhasilannya 70-80%
  • Efektivitasnya tinggi

Kekurangannya:

  • Ereksi terus sepanjang waktu
  • Tidak meningkatkan lebar (ukuran) penis
  • Risiko infeksi
  • Dapat melukai atau merubah erection bodies
  • Dapat menyebabkan nyeri kulit
  • Jika tidak sukses, dapat mempengaruhi terapi lainnya.

b. Fully inflatable implants

Kelebihannya:

  • Rigiditas-flaksiditasnya menyerupai proses alamiah
  • Pasien dapat mengontrol keadaan ereksi
  • Tampak alamiah
  • Dapat meningkatkan lebar (ukuran) penis saat digunakan
  • Tingkat keberhasilannya 70-80%
  • Efektivitasnya tinggi

Kekurangannya:

  • Risiko infeksi
  • Implant yang paling mahal
  • Jika tidak sukses, dapat memengaruhi terapi lainnya.

c. Self-contained inflatable unitary implants

Kelebihannya:

  • Rigiditas-flaksiditasnya menyerupai proses alamiah
  • Pasien dapat mengontrol keadaan ereksi
  • Tampak alamiah
  • Teknik bedahnya lebih mudah daripada prostesis “inflatable

Kekurangannya:

  • Terkadang sulit mengaktifkan peralatan “inflatable
  • Risiko infeksi
  • Dapat melukai atau merubah erection bodies
  • Relatif mahal

2. Vascular reconstructive surgery

Kelebihannya:

  • Tampak alamiah
  • Rata-rata tingkat kesuksesannya 40-50%
  • Jika tidak berhasil tidak memengaruhi terapi lainnya
  • Tidak perlu implant
  • Efektivitasnya sedang

Kekurangannya:

  • Teknik pembedahannya paling sulit secara teknis
  • Perlu tes yang extensive
  • Dapat menyebabkan pemendekan penis
  • Hasil jangka panjang tidak tersedia
  • Sangat mahal
  • Risiko infeksi, pembentukan jaringan parut (scar), dengan distortion penis dan nyeri saat ereksi.

VI.      Pencegahan

Pencegahan secara dini, antara lain :

Ø  Tidak merokok.

Ø  Tidak meminum minuman beralkohol atau minuman illegal lainnya.

Ø  Istirahat yang cukup Olahraga teratur.

Ø  Makanan yang sehat dan bergizi.

Ø  Seks yang sehat dengan pasangan yang sah.

Ø  Komunikasi baik dengan pasangannya.

Saran lainnya, yaitu :

Ø  Jangan membicarakan orang lain ketika berhubungan intim.

Ø  Menghargai pasangan dan belajarlah memuji pasangan.

Ø  Rasa cemas akan membuat penis kehilangan ereksi. Ciptakan rasa akrab dengan pasangan.

Ø  Jangan menggunakan obat kuat atau jamu tanpa rekomendasi atau tidak dianjurkan oleh dokter untuk memakainya.

Ø  Jangan membiasakan diri melakukan hubungan seksual sebagai pelampiasan stres.

Ø  Konsultasikan dengan dokter jika menggunakan obat-obatan dikarenakan penyakit lain dalam jangka panjang, diskusikan dengan dokter efek samping penggunakan obat-obatan dalam dosis tertentu, dan bila bermaksud menggantikan jenis obat atau berhenti memakainya lakukan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

 

 

 

VII.     Hal – hal Yang Perlu Diwaspadai

Beberapa hal yang perlu diwaspadai, yaitu :

Ø  Perubahan urin yang menetap.

Ø  Sering sakit pada punggung bagian belakang.

Ø  Operasi prostat.

Ø  Luka pada bagian syaraf tertentu yang berhubungan dengan kemampuan ereksi, misalnya tulang belakang, luka pada penis, dsb.

Ø  Ereksi yang tidak diharapkan dalam keadaan sadar.

Ø  Ereksi lebih dari 4 jam tanpa ada aktivitas seksual.

Pengobatan yang dilakukan yaitu :

Ø  Segera ke dokter bila merasakan adanya gangguan ereksi, dokter kemungkinan akan melakukan serangkain test untuk diagnosa yang tepat.

Ø  Analisis urin.

Ø  Uji darah seperti CBC, metabolisme, PSA dan tingkat hormon.

Ø  NPT (nocturnal penile tumescence).

Ø  Test syaraf.

Ø  Psikometri.

Test-test tersebut berguna dalam perlakuan treatment secara hati-hati dan tepat sasaran. Test tersebut juga bertujuan untuk mengetahui penyebab utama gangguan yang muncul, misalnya saja gangguan ereksi yang disebabkan oleh hormon yang tidak seimbang maka treatment mengarah pada medikasi endokrin

Banyak teknik untuk menyembuhkan gangguan ereksi, seperti pengunaan obat-obatan, injeksi (seperti alprostadil) atau penggunaan vakum. Pasien haruslah cermat dan berhati-hati akan kemungkinan dampak atau komplikasi yang muncul selama pengobatan, oleh karenanya pasien harus jeli dan berkonsultasi masalah ini secara jelas kepada dokter yang menanganinya.

Jenis obat yang sering digunakan dalam penyembuhan gangguan ereksi seperti sildenafil (viagra), vardenafil (levitra), dan tadalafil yang digunakan untuk gangguan sedang. Tidak semua jenis obat tersebut dapat menyembuhkan secara total. Jangan menggunakan obat-obat tersebut bila pasien tidak mengalami gangguan ereksi atau mengalami impotensi.

Obat tersebut juga tidak bisa digunakan bersamaan dengan jenis obat yang lain, beberapa pasien dengan gangguan hati (lever) dapat mengakibatkan kematian bila jenis obat (nitroglycerine) dikonsumsi secara bersamaan dengan obat ereksi.

Saat ini metode operasi implantasi (penile prosthesis) juga dapat menjadi alternatif dalam penyembuhan gangguan ereksi, tetapi harus disesuaikan dengan keadaan diri dan konsultasikan ke dokter bila beberapa alternatif dapat dilakukan untuk penyembuhan gangguan ereksi ini.

 

VIII.   Studi Kasus:

Saya adalah seorang suami, umur 51 tahun. Sekitar lima tahun terakhir ini kalau orgasme tidak keluar sperma. Kalaupun sperma keluar, jumlahnya sedikit sekali. Apa penyebabnya? Untuk kondisi kesehatan, saya mengalami kencing manis dengan gula darah 170-an. Saya mendapat pengobatan dari dokter, harus minum obat sehari dua kali.

Pertanyaan saya, mengapa saya mengalami itu? Apakah sperma saya habis? Apakah tidak berbahaya bila sperma tidak keluar? Apakah dapat diobati agar saya tetap dapat mengeluarkan sperma sewaktu berhubungan intim?

Solusi Kasus:

1)        Orgasme, tetapi tanpa sperma

Kemungkinan pertama, ejakulasi tidak terjadi selama melakukan hubungan seksual. Namun, dengan cara lain ejakulasi tetap dapat terjadi, misalnya masturbasi. Disfungsi seksual ini disebut ejakulasi terhambat.

Kondisi ini dapat disebabkan oleh hambatan psikis dan penyebab fisik. Hambatan psikis misalnya perasaan takut kalau istri hamil. Penyebab fisik, misalnya gangguan saraf yang mengontrol ejakulasi dan akibat efek samping obat tertentu.

Kemungkinan kedua, hal ini terjadi pada pria yang mengalami operasi kelenjar prostat. Produksi cairan prostat menjadi sangat berkurang sehingga  volume sperma sangat sedikit, bahkan tidak tampak ketika mengalami ejakulasi.

Kemungkinan ketiga, hal ini sering terjadi pada pria yang mengalami diabetes (kencing manis) yang tidak terkontrol. Karena diabetes tidak dikontrol, otot yang menutup lubang kandung kemih tidak mampu menutup dengan baik ketika terjadi ejakulasi. Sperma yang seharusnya dikeluarkan melalui lubang lubang kencing, akhirnya masuk ke dalam kandung kemih. Kejadian seperti ini banyak dialami pria diabetes yang tidak mendapat pengobatan dengan memadai.

2)        Akibat diabetes

Tampaknya inilah yang Anda alami sebagai pengidap diabetes. Cobalah perhatikan, pada saat berkemih setelah melakukan hubungan seksual, Anda akan melihat cairan sperma keluar bersama aliran kencing. Ini menunjukkan bahwa sperma Anda dikeluarkan ke dalam kandung kemih, tidak keluar pada waktu ejakulasi. Jadi bukan karena sperma Anda habis.

Sperma tetap diproduksi dan tetap diejakulasikan pada waktu Anda mencapai orgasme, tetapi bukan keluar, melainkan masuk ke dalam kandung kemih. Hal ini disebabkan otot penutup pada lubang kandung kemih tidak dapat menutup dengan kuat. Kerusakan saraf yang mengatur otot di sekitar lubang kandung kemih menyebabkan otot tidak dapat menutup lubang dengan kuat.

Akan tetapi, jangan khawatir, kejadian ini sama sekali tidak berbahaya. Tidak ada akibat apa pun yang akan Anda alami. Bahkan, sebenarnya tidak berpengaruh apa – apa karena orgasme tetap dapat Anda alami. Ejakulasi hanya diperlukan kalau Anda menginginkan terjadi kehamilan. Jadi, tanpa ejakulasi, sebenarnya hubungan seksual Anda tidak berpengaruh. Gangguan ini dapat diatasi dengan pengobatan untuk memperbaiki fungsi saraf otot yang terganggu. Diperlukan obat untuk meningkatkan kontraksi otot sehingga dapat menutup lubang kandung kemih dengan kuat.

DAFTAR PUSTAKA

B. Windhu, Siti Candra. 2009. Disfungsi Seksual. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Datta, Misha, dkk. 2010. Rujukan Cepat Obstetri & Ginekologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Rachmadi, Agus. 2008. Kadar Gula Darah dan Kadar Hormon Testosteron Pada Pria Penderita Diabetes Melitus Hubungannya dengan Disfungsi Seksual dan Perbedaannya dengan yang Tidak Mengalami Disfungsi Seksual. Semarang: Program Pascasarjana, Universitas Dipenogoro.

Setiadji, V. Sutarmo. 2006. Neurofisiologi Ereksi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI – Press).

6.         Tjay, Tan Hoan dan Kirana R. 2007. Obat – Obat Penting Kasiat, Penggunaan dan Efek – Efek Sampingnya Edisi Keenam. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo.

7.         Wibowo S. dan Gofir A. 2007. Disfungsi Ereksi. Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press.

 

About riezakirah

i am a muslim n try to be a better person for every day..ordinary people.. "Then which of the favours of your lord will you deny (Q.S 55:12)" Lihat semua pos milik riezakirah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: