glomerulonefritis


Glomerulonefritis adalah peradangan pada glomerulus. Terdapat tiga golongan glomerulonefritis yaitu akut, progresif cepat, dan kronis.

A. Manifestasi Klinik

Glomerulonefritis Akut

Glomerulonefritis akut adalah peradangan glomerulus secara mendadak. Peradangan akut glomerulus terjadi akibat pengendapan kompleks antigen-antibodi di kapiler-kapiler glomerulus. Kompleks biasanya terbentuk 7-20 hari setelah infeksi faring atau kulit oleh streptococcus (glomerulonefritis pascastreptokokus) tetapi dapat timbul setelah infeksi lain.

Pengendapan kompleks antigen-antibodi di glomerulus akan memacu suatu rekasi peradangan. Reaksi peradangan di glomerulus menyebabkan pengaktifan komplemen dan degranulasi sel mast, sehingga terjadi peningkatan aliran darah, peningkatan permeabilitas kapiler glomerulus, dan peningkatan filtrasi glomerulus. Protein plasma dan sel darah merah bocor melalui glomerulus. Akhirnya membran glomerulus rusak sehingga terjadi pembengkan dan edema di ruang intertisium Bowman. Hal ini meningkatkan tekanan cairan intertisium, yang dapat menyebabkan kolapsnya setiap glomerulus di daerah tersebut. Akhirnya, peningkatan tekanan cairan interstisium akan melawan filtrasi glomerulus lebih lanjut.

Pengaktifan reakasi peradangan juga menarik sel-sel darah putih dan trombosit ke daerah glomerulus. Pada peradangan, terjadi pengaktifan faktor-faktor koagulasi, yang dapat menyebabkan pengendapan finrin, pembentukan jaringan parut, dan hilangnya fungsi glomerulus. Membran glomerulus menebal dan menyebabkan penurunan GFR lebih lanjut.

Glomerulonefritis Progresif Cepat

Glomerulonefritis progresif cepat adalah peradangan glomerulus yang terjadi sedemikian cepat sehingga terjadi penurunan GFR 50% dalam 3 bulan setelah awitan penyakit. Glomerulonefritis progresif cepat dapat terjadi akibat perburukan Glomerulonefritis akut, suatu penyakit otoimun, atau sebabnya idiopatik ( tidak diketahui ).

Glomerulonefritis progresif cepat berikatan dengan proliferasi difus sel-sel glomerulus di dalam ruang Bowman. Hal ini menimbulkan struktur yang berbentuk mirip bulan sabit yang merusak ruang Bowman. GFR menurun sehingga terjadi gagal ginjal.

Sindrom Goodpasture adalah suatu jenis Glomerulonefritis progresif cepat yang disebabkan oleh terbentuknya oto-antibodi yang melawan sel-sel glomerulus itu sendiri. Kapiler paru juga terkena. Terjadi pembentukan jaringan parut luas di glomerulus. Dalam beberapa minggu atau bulan sering timbul gagal ginjal.

Glomerulonefritis Kronik

Glomerulonefritis kronik adalah peradangan lama di sel-sel glomerulus. Kelainan ini dapat terjadi akibat glomerulonefritis akut yang tidak membaik atau timbul secara spontan. Glomerulonefritis kronis sering timbul beberapa tahun setelah cedera dan peradangan glomerulus subklinis yang disertai oleh hematuria (darah dalam urin) dan proteinuria (protein dalam urin) ringan.

Penyebabnya sering kali adalah diabetes melitus dan hipertensi kronis. Kedua penyakit ini berkaitan dengan cedera glomerulus yang bermakna dan berulang. Hasil akhir dari peradangan tersebut adalah pembentukan jaringan parut dan menuruunnya fungsi glomerulus. Kerusakan glomerulus sering diikuti oleh atrifu tubulus. Para pengidap glomerulonefritis kronis yang disertai diabetes atau yang mungkin mengalami hipertensi ringan, memiliki prognosis fungsi ginjal jangka panjang yang kurang baik. Glomerulonefritis kronis juga dapat menyertai lupus eritematosus sistemik sekunder.

GAMBARAN KLINIS

a. Gambaran Klinis secara umum untuk semua glomerulonefritis :

1.      Penurunan volume urin

2.      Darah dalam urin (urin berwarna kecoklatan), baik makroskopik maupun mikroskopik

3.      Retensi cairan urin

b. Gambaran Klinis untuk Glomerulonefritis Akut :

1.      Pembengkakan jaringan (edema) karena retensi cairan cairan, edema pertama muncul sebagai bengkak pada wajah dan kelopak mata dan kemudian menonjol pada kaki.

2.      Tekanan darah meningkat sebagai fungsi ginjal menjadi terganggu

3.      Pada saat tekanan darah meningkat juga terjadi pembengkakan otak sehingga menghasilkan sakit kepala, gangguan visual, dan gangguan lebih serius fungsi otak (misalnya kejang atau koma)

4.      Pada orang tua, gejala spesifik, seperti mual dan malaise.

c. Gambaran Klinis Glomerulonefritis Progresif Cepat :

1.      Kelemahan, kelelahan, dan demam

2.      Hilang nafsu makan, mual, muntah, sakit perut

3.      Nyeri sendi

d. Gambaran Klinis Glomerulonefritis Kronik :

1.      Tekanan darah tinggi

2.      Edema

B. DIAGNOSIS

a. Pemeriksaan fisik

Riwayat kesehatan umum, meliputi gangguan atau penyakit yang lalu, berhubungan dengan penyakit sekarang. Contoh: ISPA

Riwayat kesehatan sekarang, meliputi; keluhan/gangguan yang berhubungan dengan penyakit saat ini. Seperti; mendadak nyeri abdomen, Pinggang, edema.

PEMERIKSAAN FISIK

1. Aktivitas/istirahat

–       Gejala: kelemahan/malaise

–       Tanda: kelemahan otot, kehilangan tonus otot

2. Sirkulasi

–       Tanda: hipertensi, pucat,edema

3. Eliminasi

–       Gejala: perubahan pola berkemih (oliguri)

–       Tanda: Perubahan warna urine (kuning pekat, merah)

4. Makanan/cairan

–       Gejala: (edema), anoreksia, mual, muntah

–       Tanda: penurunan keluaran urine

5. Pernafasan

–       Gejala: nafas pendek

–       Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan frekwensi, kedalaman (pernafasan kusmaul)

6. Nyeri/kenyamanan

–       Gejala: nyeri pinggang, sakit kepala

–       Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah

b. Pemeriksaan Penunjang

Pada laboratorium didapatkan:

–       Hb menurun ( 8-11 )

–       Ureum dan serum kreatinin meningkat.

( Ureum : Laki-laki = 8,84-24,7 mmol/24jam atau 1-2,8 mg/24jam, wanita = 7,9-14,1 mmol/24jam atau 0,9-1,6 mg/24jam, Sedangkan Serum kreatinin : Laki-laki = 55-123 mikromol/L atau 0,6-1,4 mg/dl, wanita = 44-106 mikromol/L atau 0,5-1,2 mg/dl ).

–       Elektrolit serum (natrium meningkat, normalnya 1100 g)

–       Urinalisis (BJ. Urine meningkat : 1,015-1,025 , albumin Å, Eritrosit Å, leukosit Å)

–       Pada rontgen: IVP abnormalitas pada sistem penampungan (Ductus koligentes)

Dokter menyelidiki kemungkinan glomerulonefritis akut pada orang yang hasil uji laboratorium menunjukkan disfungsi ginjal atau darah dalam air seni dan pada orang yang mengembangkan gejala gangguan tersebut, terutama mereka yang memiliki radang tenggorokan atau infeksi lain. Uji laboratorium menunjukkan jumlah variabel sel protein dan darah dalam urin dan sering disfungsi ginjal, sebagaimana ditunjukkan oleh konsentrasi tinggi urea dan (produk limbah) kreatinin dalam darah.

Pada orang dengan glomerulonefritis progresif cepat, cast (gumpalan sel darah merah atau sel darah putih) yang hampir selalu terlihat dalam sampel urin yang diperiksa di bawah mikroskop. Tes darah mendeteksi anemia dan sering abnormal tinggi jumlah sel darah putih. Ketika dokter menduga glomerulonefritis, biopsi ginjal biasanya dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis, membantu menentukan penyebabnya, dan menentukan jumlah jaringan parut dan potensi untuk reversibilitas. Biopsi ginjal dilakukan dengan memasukkan jarum di salah satu ginjal bawah bimbingan ultrasound atau tomografi (CT) dihitung untuk memperoleh sejumlah kecil jaringan ginjal. Walaupun ginjal biopsi merupakan prosedur invasif dan kadang-kadang bisa menjadi rumit, biasanya aman.

Pengujian tambahan kadang-kadang membantu untuk mengidentifikasi penyebabnya. Misalnya, budaya tenggorokan dapat memberikan bukti infeksi streptokokus. Darah tingkat antibodi terhadap streptokokus mungkin lebih tinggi dari normal atau semakin bertambah selama beberapa minggu. Glomerulonefritis akut yang mengikuti infeksi selain radang tenggorokan biasanya lebih mudah untuk mendiagnosis, karena gejala sering mulai saat infeksi masih jelas. Budaya dan tes darah yang membantu mengidentifikasi organisme yang menyebabkan jenis lain infeksi kadang-kadang diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis.

Glomerulonefritis kronis berkembang secara bertahap, dan karena itu, dokter mungkin tidak dapat memberitahu kapan tepatnya dimulai. Ini mungkin ditemukan saat tes urine, dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan medis, mengungkapkan adanya sel protein dan darah pada orang yang merasa baik, memiliki fungsi ginjal normal, dan tidak memiliki gejala. Dokter biasanya melakukan tes pencitraan pada ginjal, seperti USG, CT scan, atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan. ginjal Biopsi adalah cara yang paling dapat diandalkan untuk membedakan glomerulonefritis kronis dari penyakit ginjal lainnya. Biopsi, bagaimanapun, adalah jarang dilakukan dalam stadium lanjut. Dalam kasus ini, ginjal menyusut dan bekas luka, dan kesempatan memperoleh informasi spesifik tentang penyebabnya adalah kecil. Dokter menduga bahwa ginjal menyusut dan berbakat jika fungsi ginjal sudah buruk untuk waktu yang lama dan ginjal muncul abnormal kecil pada tes pencitraan.

Prognosis

Glomerulonefritis akut poststreptococcal menyebabkan sepenuhnya dalam banyak kasus, terutama pada anak-anak. Sekitar 0,1% anak dan 25% dari orang dewasa menderita gagal ginjal kronis.

Prognosis untuk orang dengan glomerulonefritis progresif cepat tergantung pada tingkat keparahan jaringan parut glomerular dan apakah penyakit yang mendasari, seperti infeksi, bisa disembuhkan. Pada sekitar 75% dari orang-orang yang diobati dini (dalam minggu sampai beberapa bulan), fungsi ginjal dipertahankan dan dialisis tidak diperlukan.

Namun, karena gejala-gejala awal bisa tak jelas dan samar-samar, banyak orang yang telah glomerulonefritis progresif cepat tidak menyadari penyakit yang mendasarinya dan tidak mencari perawatan medis sampai gagal ginjal berkembang. Jika pengobatan terjadi terlambat, orang tersebut lebih mungkin menderita gagal ginjal kronis. Prognosis juga tergantung pada penyebab, usia orang tersebut, dan setiap penyakit lain orang tersebut mungkin. Jika penyebabnya tidak diketahui atau orang yang lebih tua, prognosis lebih buruk.

Pada beberapa anak-anak dan orang dewasa yang tidak pulih sepenuhnya dari glomerulonefritis akut, jenis gangguan ginjal berkembang, seperti proteinuria asimtomatik dan sindrom hematuria atau sindrom nefrotik. Orang lain dengan glomerulonefritis akut, terutama orang dewasa yang lebih tua, sering mengembangkan glomerulonefritis kronis.

C. KOMPLIKASI

1.      Dapat menyebabkan gagal ginjal

2.      Enselofati

3.      Hipertensi

4.      Gangguan sirkulasi

5.      Anemia

D. PENATALAKSANAAN

1.      Apabila kelainan disebabkan oleh glomerulonefritis pasca sterptococcus akut, maka diperlukan terapi antibiotik.

2.      Kerusakan glomerulus akibat proses otoimun dapat diobati dengan kortikosteroid untuk imunosupresi.

3.      Pada Glumerulonefritis progresif cepat dapat digunakan antikoagulan untuk mengurangi pengedapan fibrin dan pembentukan jaringan parut.

4.      Kontrol glukosa yang ketat pada penderita diabetes terbukti memperlambat atau mengurangi progresi glomerulonefritis. Penelitian menunjukkan inhibitor enzim pengubah-angiotensin ( ACE ) dapat mengurangi kerusakan glomerulus pada penderita diabetes bahkan jika tidak terbukti adanya hipertensi nyata.

5.      Inhibotor ACE dapat mengurangi kerusakan glomerulus pada individu dengan hipertensi kronis.

6.      Istirahat 1-2 minggu.

7.      Modifikasi diet.

8.      Pembatasan cairan dan natrium.

9.      Antihipertensi

10.  Pemberian diuretik furosemid secara IV (1mg/kg BB dosis tunggal)

11.  Bila anuria berlangsung lama (5-7 hari) dianjurkan dialisa peritoneal atau hemodialisa.

Pemeriksaan penunjang yang penting pada pasien dengan dugaan glomerulonefritis mencakup penilaian fungsi ginjal dengan kreatinin serum dan bersihan kreatinin, tes dipstik urine, dan pemeriksaan mikroskopik terutama untuk mencari sel darah merah dan silinder, ekskresi protein 24 jam,  dan  USG ginjal untuk mengetahui ukuran ginjal. Proteinurea yang signifikan (lebih dari 1g/hari) merupakan petunjuk kuat adanya glomerulonefritis. Tes-tes imunologis penting untuk menentukan apakah glomerolunefritis tersebut bersifat sekunder atau tidak, dan tes ini harus mengikutsertakan antibody sitoplasmik antineutrofil (antineutrophil cytoplasmic antibodies, ANCA), faktor antinuklear (antinucleat factor, ANF), komplemen C3 dan C4, antibody anti-membran basal glomerolus (anti-glomerular basal membrane, anti-GMB), dan titer antistreptolisin O atau ASO. Biopsi ginjal dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis yang akurat, namun biasanya tidak dilakukan apabila ginjal berukuran kecil.

Tarapi glomerulonefritis tergantung dari jenisnya:

1.      Pada glomerulonefritis lesi minimal, terapu kortikosteroid sering kali menimbulkan remisi. Separuh dari pasien dewasa mengalami relaps satu kali setelah remisi awal: hal ini merupakan indikasi pemberian regimen kortikosteroid kedua. Relaps-relpas berikutnya dan kegagalan untuk menimbulkan remisi adalah indikasi untuk dilakukannya prosedur imunosupresi yang lebih agresif.

2.      Prognosis glomerulonefritis membranosa cukup bervariasi. Dalam sepuluh tahun, 25% mengalami remisi spontan, 25% mengalami proteinurea nonnefrotik yang resisten, 25% mengalami proteinurea nefrotik, dan 25% mengalami gagal ginjal. Pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal, rejimen pengobatan dengan steroid dan klorambusil (rejimen ponticelli) cukup menguntungkan. GN membranosa yang disebabkna oleh obat-abatan dapat mengalami remisi setelah penghentian pengobatan.

3.      Pada RPGN atau glomerulonefritis sekunder, biasanya diberikan rejimen imunosupresi yang lebih agresif, termasuk kortikosteroid, siklofosfamid, dan plasmaferesis.

4.      Pada GN, terapi yang agresif terhadap tekanan darah dapat mengurangi kecepatan progresifitas penyakit, pengendalian lipid adalah penting, dan obat-obatan yang bersifat nefrotoksik harus dihindari.

DAFTAR PUSTAKA

Arfin, Behrama Kliegman, 2000. Nelson : Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EEC

Brunner and Suddarth, 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Ed.8 Vol.2. Jakarta : EEC

Carpenito, Lynda Juall, 2000. Diagnosa Keperawatan. Ed.8. Jakarta : EEC

Doengoes, Marilynn E, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Ed.3. Jakarta : EEC

Mansjoer, Arif.dkk, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Ed.3. Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius. FKUI

About riezakirah

i am a muslim n try to be a better person for every day..ordinary people.. "Then which of the favours of your lord will you deny (Q.S 55:12)" Lihat semua pos milik riezakirah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: