Hari ini 10 November..


Pahlawan masa lalu, masa kini dan masa depan adalah “Pahala-wan”, orang-orang yang berpahala, karena melakukan perbuatan nyata. hanya karena kodratnya sebagai manusia mengabdi kepada Sang Khaliq secara batiniah, dan kepada sesama manusia, sebagai kewajiban beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.


TRIBUNNEWS.COM- Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati/ Air matanya berlinang mas intannya terkenang/ Sawah hutan gunung lautan simpanan kekayaan/ Kini Ibu sedang lara, merintih, dan berdoa

Penggalan bait-bait lagu Ibu Pertiwi di atas, menjadi cerminan nyata kondisi Bangsa Indonesia hari ini ?, sawah, gunung dan lautan yang menjadi simpanan kekayaan, seolah tidak peduli, mengamuk, bergejolak berubah menjadi bencana yang sambung menyambung.

Mulai dari gempa bumi, tsunami dan letusan gunung Merapi. Tangisan, jeritan dan rintihan mempertontonkan wajah-wajah anak bangsa yang sedang sedih, takut, duka, luka yang berujung pada kegamangan, keputusasaan dan bahkan nekat bunuh diri.

Belum lagi ditambah dengan pertunjukan drama ironis, saat para elite politik, panutan masyarakat, justru mempertontonkan “tarian sumbang”, dengan tingkah polahnya yang semakin “menjijikkan” siapapun yang melihat, mulai soal korupsi yang tiada henti, studi banding ke luar negeri, ngeles sana ngeles ini, hingga perilaku tidak terpuji lainnya yang akhirnya mengikis kepercayaan serta menambah kebingungan siapapun.

Bukankah di negeri ini sering terjadi bencana alam ? tapi mengapa, setiap bencana itu terjadi, penanganan bantuan dan evakuasi korban, masih terkesan cartut marut ? sporadis dan tidak terkontrol secara baik ?

Pelajaran bencana masa lalu, sepertinya belum mampu menjadi sandaran fakir dan sikap untuk sebuah perbaikan system siaga bencana atau tanggap darurat bencana. Dimulai dari Tsunami di Aceh (26 Desember 2004) ; Gempa Bumi di Padang Sumatera Barat (30 September 2009) ; Meletusnya Gunung Sinabung (29 Agustus 2010) dan bencana alam lainya, termasuk banjir di Jakarta, banjir di Wasior hingga meletusnya Gunung Merapi di Jogyakarta.

Episode Kelabu lebih tepat untuk menggambarkan bangsa hari ini, kelabu akibat tertutup abu dan debu vulkanik, kelabu tersiram air bah, yang akan sangat membahayakan, sekiranya tidak segera dibersihkan, tidak segera diperbaiki dan tidak segera interospeksi diri secara Nasional.

Tentu tanpa bermaksud mencari siapa yang salah dan siapa yang benar ? ataupun menuduh semua ini akibat dosa siapa ? tetapi menjadikan pertanyaan kita bersama, apakah bangsa ini benar-benar sedang dalam “terpuruk” ?

Sebagai bangsa besar yang berdaulat dan bermartabat kita sepakat bahwa pernyataan tersebut Tidaklah benar…!

Optimisme harus terus ditegakkan, mengingat jutaan masyarakat bangsa sangat membutuhkan keyakinan itu. Keyakinan yang tidak boleh padam, agar kehidupan segera berganti menjadi kehidupan yang penuh harapan bagi kehidupan yang lebih baik.

Berkaitan dengan Hari Pahlawan 10 November, 2010 tidaklah berlebihan, manakala kita melihat kembali sejarah kepahlawanan untuk membangkitkan semangat kebersamaan, semangat kepedulian dan optimisme bangkit dari keadaan yang kita alami dan rasakan bersama.

Tema Hari Pahlawan yang berbunyi “Dengan Semangat dan Nilai Kepahlawanan Kita Tingkatkan Kesetia Kawanan Sosial Nasional” menjadi berarti, ketika diikuti tindakan nyata, bukan sekedar dibunyikan.

Pada dasarnya sikap kesetiakawanan social merupakan jati diri bangsa, sebuah semangat spiritual yang dilandasi oleh niat luhur, untuk secara bersama-sama dan bertanggungjawab atas sebuah partisipasi sosial, rela berkorban bagi kepentingan banyak, tentu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tanpa memandang perbedaan.

Dalam konteks kekinian, jiwa kepahlawanan bukan lagi bermakna memanggul senjata bertarung fisik melawan musuh, melainkan individu-individu atau kelompok-kelompok masyarakat dari berbagai tingkatan yang secara ikhlas rela berkorban jiwa dan raga demi kepentingan orang banyak serta demi mengangkat harkat dan martabat masyarakat bangsa dalam arti yang seluas-luasnya.

Dengan kata lain, sipapun kita, apapun profesi kita, dapat menjadi pahlawan, ketika memiliki keberanian, kejujuran dan keikhlasan, rela berkorban jiwa dan raga demi membela kebenaran hakiki semata-mata untuk kepentingan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara menuju yang lebih baik.

Pahlawan sejati tidak membutuhkan atau menuntut gelar, karena sehebat apapun gelar, mereka tidak akan pernah menikmatinya. Dan ketika itu terwujud, maka sampai kapan pun, makna Hari Pahlwan akan menemukan relevansinya.

Pahlawan masa lalu, masa kini dan masa depan adalah “Pahala-wan”, orang-orang yang berpahala, karena melakukan perbuatan nyata. hanya karena kodratnya sebagai manusia mengabdi kepada Sang Khaliq secara batiniah, dan kepada sesama manusia, sebagai kewajiban beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di akhir tulisan ini, ijinkan penulis menyampaikan rasa duka yang dalam atas wafatnya para korban bencana Tsunami Mentawai, korban banjir Wasior serta koban letusan Gunung Merapi Jogyakarta, khususnya kepada Sahabat H. Tutur Priyanto, SE, kader terbaik Barisan Ansor Sebaguna (BANSER), serta 4 (empat) Relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang wafat saat menjalankan tugas kemanusiaan dalam bencana letusan Gunung Merapi, Insya Allah husnul khotimah karena sahabat kembali kepada Sang Khaliq saat melaksanakan Jihad Fisabiilillah, Amiin Ya Robbal Alamin.

Sahabat adalah Pahlawan masa kini yang senantiasa menginspirasi bagi munculnya Pahlawan – Pahlawan di masa mendatang. Kini Ibu Pertiwi tidak menangisi, tapi kami semua yang menangis kehilanganmu.

10 NOVEMBER 2010

Ditulis oleh Eddy Prasetyo
Wakil Ketua PW ANSOR KEPRI
dan Sekretaris KNPI KEPRI

About riezakirah

i am a muslim n try to be a better person for every day..ordinary people.. "Then which of the favours of your lord will you deny (Q.S 55:12)" Lihat semua pos milik riezakirah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: