Konsep Patofisiologis


Konsep Patofisiologis

Sel selalu terpajan terhadap kondisi yang terus-menerus berubah dan terhadap rangsangan yang berpotensi merusak. Apabila perubahan dan rangsangan bersifat ringan atau singkat, maka sel akan mudah beradaptasi. Rangsangan yang lebih lama atau lebih kuat dapat menyebabkan cedera pada sel atau bahkan kematian.

1.         KEMATIAN SEL

Terdapat dua kategori utama kematian sel. Kategori pertama adalah kematian sel nekrotik, terjadi apabila suatu rangsangan yang menyebabkan cedera pada sel terlalu kuat atau berkepanjangan. Nekrosis sel dicirikan dengan adanya pembengkakan dan ruptur organel internal yang kebanyakan mengenai mitokondria, dan jelasnya stimulasi respons peradangan.

Kategori kedua kematian sel adalah apoptosis, yaitu kematian sel yang diprogram. Apoptosis (dari basa yunani apo = “dari” dan ptosis = “jatuh”) adalah mekanisme biologi yang merupakan salah satu jenis kematian sel terprogram (programmed cell death), adalah suatu komponen yang normal terjadi dalam perkembangan sel untuk menjaga keseimbangan pada organisme multiseluler. Sel-sel yang mati adalah sebagai respons dari beragam stimulus dan selama apoptosis kematian sel-sel tersebut terjadi secara terkontrol dalam suatu regulasi yang teratur. Apoptosis adalah suatu proses yang ditandai dengan terjadinya urutan teratur tahap molekular yang menyebabkan disintegrasi sel. Apoptosis tidak ditandai dengan adanya pembengkakan atau peradangan, namun sel yang akan mati menyusut dengan sendirinya dan dimakan oleh oleh sel di sebelahnya. Apoptosis berperan dalam menjaga jumlah sel relatif konstan dan merupakan suatu mekanisme yang dapat mengeliminasi sel yang tidak diinginkan, sel yang menua, sel berbahaya, atau sel pembawa transkripsi DNA yang salah. Apoptosis merupakan proses aktif yang melibatkan kerja sel itu sendiri, dan namanya diambil dari kata Yunani yang berarti “menciut” seperti menguncupnya sebuah bunga.

Timidin fosforilase (TP), suatu faktor pertumbuhan sel endotel yang dihasilkan trombosit, telah terbukti melindungi sel dari apoptosis dengan merangsang metabolisme nukleosida dan angiogenesis. Penggunaan obat yang secara khusus menargetkan TP telah direkomendasikan untuk memperbaiki efek kemoterapikonvensional dengan meningkatkan apoptosis sel-sel yang bermutasi.

a.   Penyebab Kematian Sel Nekrotik

Faktor yang sering menyebabkan kematian sel nekrotik adalah hipoksia berkepanjangan, infeksi yang menghasilkan toksin dan radikal bebas, dan kerusakan integritas membran sampai pada pecahnya sel. Respon imun dan peradangan terutama sering dirangsang oleh nekrosis yang menyebabkan cedera lebih lanjut dan kematian sel sekitar. Nekrosis sel dapat menyebar di seluruh tubuh tanpa menimbulkan kematian pada individu.

b.   Penyebab Apoptosis

Kematian sel terprogram dimulai selama embriogenesis dan terus berlanjut sepanjang waktu hidup organisme. Rangsang yang menimbulkan apoptosis meliputi isyarat hormon, rangsangan antigen, peptida imun, dan sinyal membran yang mengidentifikasi sel yang menua atau bermutasi. Virus yang menginfeksi sel akan seringkali menyebabkan apoptosis, yang pada akhirnya akan menyebabkan kematian virus dan sel pejamu (host). Hal ini merupakan satu cara yang dikembangkan oleh organisme hidup untuk melawan infeksi virus. Virus terterntu (misal virus EpsteinBarr yang bertanggung jawab terhadap mononukleosis) pada gilirannya menghasilkan protein khusus yang menginaktifkan respons apoptosis. Defisiensi apoptosis telah berpengaruh pada perkembangan kanker dan penyakit neuro degeneratif dengan penyebab yang tidak diketahui, termasuk penyakit Alzheimer dan sklerosis lateral amiotrofik (penyakit Lou Gehrig). Apoptosis yang dirangsang antigen dari sel imun (sel T dan B) sangat penting dalam menimbulkan dan mempertahankan toleransi-diri imun.

c.   Akibat Kematian Sel

Sel-sel yang mati akan mengalami pencairan atau koagulasi kemudian dibuang atau diisolasi dari jaringan yang masih baik oleh sel imun dalam proses fagositosis. Apabila mitosis memungkinkan dan daerah nekrosis tidak terlalu luas, maka sel-sel baru dengan jenis yang sama akan mengisi kekosongan ruang yang ditinggalkan oleh sel mati. Pada ruang yang kosong tersebut akan timbul jaringan parut apabila pembelahan sel tidak terjadi atau apabila daerah nekrosis terlalu luas.

Gangren dapat diartikan sebagai kematian sel dalam jumlah besar. Gangren dapat diklasifikasikan sebagai kering atau basah. Gangren kering meluas secara lambat dengan hanya sedikit gejala. Gangren kering sering dijumpai di ekstremitas, umumnya terjadi akibat hipoksia berkepanjangan. Gangren basah adalah suatu area kematian jaringan yang cepat perluasannya, sering ditemukan di organ-organ dalam, dan berkaitan dengan invasi bakteri ke dalam jaringan yang mati tersebut. Gangren ini menimbulkan bau yang kuat dan biasanya disertai oleh manifestasi sistemik. Gangren basah dapat timbul dari gangren kering. Gangren gas adalah jenis gangren khusus yang terjadi sebagai respons terhadap infeksi jaringan oleh suatu jenis bakteri anaerob yang disebut klostridium. Gangren jenis ini paling sering terjadi setelah trauma hebat. Gangren gas cepat meluas ke jaringan di sekitarnya sebagai akibat dari dikeluarkannya toksin yang mematikan oleh bakteri yang membunuh sel-sel di sekitarnya. Sel-sel otot sangat rentan terhadap toksin ini dan apabila terkena akan mengeluarkan gas hidrogen sulfida yang khas. Gangren jenis ini dapat mematikan.

 

CEDERA SEL

    Cedera sel terjadi apabila suatu sel tidak lagi dapat beradaptasi terhadap rangsangan. Hal ini dapat terjadi bila rangsangan tersebut terlalu lama atau terlalu berat. Sel dapat pulih dari cedera atau mati bergantung pada sel tersebut dan besar serta jenis cedera.

    Hipoksia (kekurangan oksigen), infeksi mikroorganisme, suhu yang berlebihan, trauma fisik, radiasi, dan terpajan oleh radikal bebas semuanya menyebabkan cedera sel. Apabila suatu sel mengalami cedera, maka sel tersebut dapat mengalami perubahan dalam ukuran, bentuk, sintesis protein, susunan genetik, dan sifat transportasinya.

    KEADAAN PENYAKIT ATAU CEDERA

    1.   Hipoksia

    Hipoksia adalah penurunan konsentrasi oksigen di dalam jaringan. Konsentrasi oksigen dalam jaringan mencerminkan konsentrasi oksigen dalam darah, yang bergantung pada jumlah oksigen yang masuk ke paru dan jumlah yang dibawa oleh darah, baik terlarut atau terikat dengan hemoglobin. Penurunan oksigen dalam darah disebut hipoksemia.

    Sebagian besar oksigen diangkut dalam bentuk terikat oleh besi protein (hemoglobin), yang terdapat di sel darah merah, namun demikian terdapat sebagian kecil oksigen yang diangkut dalam bentuk terlarut dalam darah. Sel dan jaringan akan mengalami hipoksia apabila pemasukan oksigen melalui sistem pernapasan tidak adekuat, penyampaian oksigen oleh sistem kardiovaskular tidak adekuat, atau kurangnya hemoglobin.

    Oksigen diperlukan oleh mitokondria untuk fosforilasi oksidatif dan pembentukan ATP. Tanpa oksigen, proses ini tidak dapat terjadi. Meskipun glikolisis anaerob akan menghasilkan sedikit ATP, tetapi ATP hasil dari proses ini bukan merupakan sumber yang efisien, dan tidak dapat menunjang kebutuhan energi sel apabila terjadi hipoksia yang berkepanjangan.

    a.       Akibat Hipoksia

    Pada saat sel kekurangan ATP, sel tersebut tidak dapat lagi mempertahankan fungsi selularnya, termasuk fungsi transspor natrium dan kalium melalui pompa natrium kalium. Tanpa pemompaan natrium kalium, sel akan mulai menimbun natrium karena natrium berdifusi ke dalam sel mengikuti penurunan gradien konsentrasi dan gradien listrik. Potensial listrik yang melintasi membran mulai turun seiring dengan penumpukan natrium sebuah ion positif, intrasel. Tekanan osmotik di dalam sel meningkat, sehingga terjadi penarikan air ke dalam sel. Sel iskemik (yang megalami kekurangan oksigen atau suplai darah) mulai membengkak sehingga terjadi dilatasi retikulum endoplasma, penurunan fungsi mitokondria, dan peningkatan permeabilitas membran intrasel.

    Akibat lain dari hipoksia adalah pembentukan asam laktat, yang terjadi selama glikolisis anaerob. Peningkatan asam laktat menyebabkan pH dalam sel dan darah menurun. Penurunan pH (peningkatan keasaman) intrasel menyebabkan kerusakan struktur-struktur inti, membran sel dan mikrofilamen. Perubahan pH dapat juga mempengaruhi potensial listrik yang melintasi membran.

    Efek hipoksia bersifat reversibel apabila oksigen dipulihkan dalam periode waktu tertentu, yang jumlahnya bervariasi dan bergantung pada jenis jaringan. Akan tetapi, pembengkakan sel dapat menyebabkan pecahnya vesikel lisosom, sehingga melepaskan enzim-enzim mereka dan lisis (terurainya) sel. Kematian sel ditandai oleh peningkatan kadar enzim-enzim intrasel yang melebihi normal di dalam sirkulasi umum.

    b.      Penyebab Hipoksia

    Penyebab hipoksia antara lain adalah penyakit pernapasan dan semua penyakit yang mempengaruhi aliran darah, seperti infark miokardium, syok hemoragik, bekuan darah, berbagai racun, dan sebagai toksin yang dikeluarkan oleh mikroorganisme.

    Keracunan sianida terjadi akibat eaksi kimia antara sianida dengan substrat akhir yang terdapat pada rantai transport elektron. Tanpa langkah akhir ini, fosforilasi oksidatif tidak terjadi, akibatnya pembentukan ATP juga tidak terjadi di mitokondria. Sianida terdapat di biji buah-buahan seperti aprikot dan apel. Leatrile, suatu terapi kanker yang belum dibuktikan, dibuat dari biji aprikot dan mengandung cukup banyak sianida yang dapat menimbulkan kematian.

    Keracunan karbon monoksida terjadi sewaktu karbon monoksida terhirup dan berikatan dengan oksigen di molekul hemoglobin. Afinitas hemoglobin untuk karbon monoksida adalah 300 kali lebih kuat dibandingkan afinitasnya untuk oksigen. Dengan demikian, pajanan terhadap karbon monoksida akan menurunkan pengikatan dan transportasi oksigen di dalam darah, sehingga terjadi hipoksia sel dan jaringan. Karbon monoksida merupakan hasil dari asap rokok, sebagian sistem pemanas dan asap kendaraan bermotor.

    Keracunan timah dapat terjadi akibat tertelannya cat yang mengandung timah. Meskipun timah mempengaruhi banyak sistem organ, termasuk otak, timah juga diketahui menghambat sintesis hemoglobin yang meyebabkan hipoksia. Timah dalam dosis besar juga menyebabkan lisis sel darah merah yang mengakibatkan hipoksia berat.

    c.       Gambaran Klinis

    1)      Penurunan fungsi sel. Apabila sumber hipoksia adalah kegagalan pernapasan atau infark miokardium, maka semua jaringan akan terkena, dan kematian sel dapat terjadi.

    2)      Peningkatan kecepatan denyut jantung

    3)      Peningkatan frekuensi pernapasan

    4)      Kelemahan otot

    5)      Penurunan tingkat kesadaran

    6)      Keracunan sianida : perasaan tersedak disertai percepatan pernapasan, kemudian terengah-engah

    7)      Keracunan karbon monoksida : percepatan pernapasan diikuti oleh rasa berdenging di telinga, mengantuk, dan konfusi. Pernapasan dengan cepat berhenti dan timbul keadaan tidak sadar

    8)      Keracunan timah : kram perut, hiperaktivitas, anoreksia, adanya garis timah di gusi, dan kram otot.

    d.      Komplikasi

    1)      Gangguan kesadaran yang berkembang menjadi koma dan kematian apabila terjadi hipoksia serebrum (otak) yang berkepanjangan

    2)      Kegagalan organ, termasuk sindrom distres pernapasan orang dewasa (ARDS), gagal jantung, atau gagal ginjal dapat terjadi apabila hipoksia memanjang.

    e.       Penanggulangan

    1)      Tingkatkan kadar oksigen yang dihirup melalui masker oksigen atau ventilasi mekanis

    2)      Untuk keracunan sianida, digunakan terapi nitrat dan natrium tiosulfat.

    3)      Untuk keracunan karbon monoksida, digunakan terapi oksigen hiperbarik (tekanan tinggi)

    4)      Untuk keracunan timah, emetik digunakan untuk merangsang muntah pada keracunan akut

    5)      Untuk keracunan kronis, digunakan chelating agents (untuk menyingkirkan timah dari sirkulasi)

    2.   Suhu yang Berlebihan

    Suhu yang terlalu panas atau dingin dapat meyebabkan cedera atau kematian sel. Pajanan terhadap suhu yang sangat tinggi dapat menyebabkan luka bakar, yang secara langsung mematikan sel, atau secara tidak langsung mencederai atau mematikan sel melalui koagulasi pembuluh darah atau penguraian membran sel. Pajanan terhadap suhu yang sangat dingin mencederai sel melalui dua cara.

    Pertama, terjadi konstriksi pembuluh darah yang menyalurkan makanan dan oksigen ke ekstremitas. Hal ini terjadi karena tubuh berusaha untuk mempertahankan suhu sentral (core temperature), yang diawali dengan konstriksi pembuluh darah pada jari tangan, kaki, telinga dan hidung. Penurunan aliran darah menyebabkan iskemia sel dan jaringan. Aliran darah yang lambat juga meningkatkan resiko pembentukan bekuan darah, yang semakin menghambat oksigenasi jaringan. Efek kedua dari pajanan terhadap suhu yang sangat dingin adalah pembentukan kristal-kristal es di dalam sel. Kristal ini secara langsung menghancurkan sel dan dapat meyebabkan lisis sel (pecah). Pajanan yang lama terhadap dingin dapat menyebabkan hipotermia.

    a.       Gambaran Klinis Pajanan Dingin dan Hipotermia

    1)      Rasa baal atau kesemutan di kulit atau ekstremitas

    2)      Kulit pucat dan kebiruan serta dingin apabila diraba

    3)      Menggigil pada awalnya, kemudian kaku pada kondisi yang memburuk

    4)      Penurunan tingkat kesadaran, mengantuk, dan konfusi

    b.      Komplikasi

    1)   Pembekuan darah, yang ditandai oleh nyeri dan penurunan denyut nadi di bagian bawah bekuan. Apabila aliran darah tidak adekuat untuk waktu yang lama, maka dapat terjadi gangren

    2)   Frostbite (cedera jaringan akibat terpajan pada suhu yang sangat dingin)

    3)   Disritmia ventrikel

    c.       Penanggulangan

    1)      Segera bawa ke rumah sakit untuk penghangatan aktif. Setiap penderita yang tampak mati akibat hipotermia perlu dievaluasi di fasilitas medis dan diberi penghangatan sampai suhu 32 derajat celcius sebelum dinyatakan mati

    2)      Selama pemindahan ke fasilitas klinis, pakaian basah yang dikenakan pasien harus dilepas dan pasien diberi selimut. Penghangatan aktif diberikan sampai pasien berada di fasilitas medis. Udara atau oksigen lembab hangat dapat diberikan selama perjalanan ke fasilitas medis

    3)      Mungkin dibutuhkan obat-obatan, untuk melisiskan bekuan darah

    4)      Untuk gangren, diperlukan antibiotik dan mungkin amputasi

    5)      Resusitasi jantung-paru dapat diberikan apabila pasien mengalami fibrilasi ventrikel

    3.   Cedera Radiasi

    Radiasi adalah transmisi energi melalui emisi berkas cahaya atau gelombang. Energi radiasi bisa terletak di rentang cahaya yang tampak, atau energinya dapat pula lebih besar atau lebih kecil dibandingkan cahaya yang tampak. Radiasi energi tinggi (termasuk radiasi ultravioleh) disebut radiasi ionisasi karena memiliki kapasitas melepaskan elektron dari atom atau molekul yang menyebabkan terjadinya ionisasi. Radiasi energi rendah disebut radiasi nonionisasi karena tidak dapat melepaskan elektron dari atom atau molekul.

    a.   Efek Radiasi Ionisasi

    Radiasi ionisasi dapat mencederai sel atau menyebabkan kematian sel secara langsung dengan merusak membran sel dan menyebabkan pembengkakan intrasel sehingga terjadi lisis sel. Ketika sel mati atau cedera, terjadi stimulasi respons peradangan yang menyebabkan kebocoran kapiler, edema interstisial, akumulasi sel darah putih dan jaringan parut. Radiasi ionisasi juga secara tidak langsung merusak ikatan antara pasangan-pasangan basa molekul DNA. Rusaknya ikatan tersebut menyebabkan kesalahan replikasi atau transkripsi DNA. Kesalahan tersebut mungkin dapat diperbaiki. Jika tidak, maka kerusakan yang terjadi dapat menyebabkan kematian sel terprogram atau timbulnya kanker akibat hilangnya kontrol genetik atas pembelahan sel.

    Radiasi ionisasi juga dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas baik secara langsung atau akibat cedera sel dan peradangan. Radikal bebas adalah suatu atom atau molekul yang sangat reaktif dengan elektron yang tidak memiliki pasangan. Radikal bebas mencari reaksi-reaksi agar dapat memperoleh kembali elektron pasangannya. Serangkaian reaksi dapat terjadi, yang menghasilkan seringkaian radikal bebas. Setelah itu, radikal bebas dapat mengalami tubrukan kaya energi dengan molekul lain, yang merusak ikatan di dalam molekul. Pada akhirnya, radikal bebas dapat merusak membran sel, retikulum endoplasma, atau DNA sel yang rentan. Kesalahan DNA akibat kerusakan radikal bebas diduga berkontribusi terhadap perkembangan beberapa kanker. Diduga pula bahwa sel endotel yang melapisi pembuluh darah dapat rusak akibat radikal bebas yang dihasilkan selama metabolisme normal lipid, yang mengakibatkan aterosklerosis.

    Agen infeksius dan hipoksia dapat meyebabkan penumpukan radikal bebas. Contohnya, kurangnya oksigen selama periode penurunan aliran darah menyebabkan cedera atau kematian sel. Apabila aliran darah diperbaiki, sel darah putih akan merangsang produksi radikal bebas yang disebarkan ke daerah yang meradang. Akumulasi radikal bebas ini dapat menyebabkan cedera serius akibat prefusi dan memperburuk kerusakan jaringan. Radikal bebas juga diproduksi akibat terpajan asap rokok dan terdapat di banyak pestisida.

    Sel biasanya memiliki mekanisme yang dapat mengeradikasi radikal bebas atau meminimalkan efeknya. Vitamin E, C dan beta-karotin merupakan zat yang dapat membuang radikal bebas dan diyakini dapat melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.

    b.      Sel yang Rentan terhadap Radiasi Ionisasi

    Sel yang paling rentan terhadap kerusakan akibat radiasi ionisasi adalah sel yang sering mengalami pembelahan, termasuk sel cerna, integumen (kulit dan rambut), dan sel pembentuk darah di sumsum tulang belakang.

    Radiasi ionisasi didapatkan dari pancaran sinar matahari, sinar X, dan pada zat-zat yang mengalami peluruhan radioaktif, termasuk zat-zat yang ditemukan di tanah dan batu-batuan serta zat-zat yang dihasilkan oleh senjata dan reaktor nuklir. Radiasi ionisasi juga dipancarkan oleh bahan-bahan yang digunakan dalam diagnosis dan terapi medis.

    c.       Efek Radiasi Nonionisasi

    Radiasi nonionisasi mencakup radiasi gelombang mikro (microwave) dan ultra-sonografi. Radiasi ini memiliki energi yang terlalu kecil untuk dapat memutuskan ikatan DNA atau merusak membran sel, tetapi radiasi ini dapat meningkatkan suhu suatu sistem, menyebabkan perubahan dalam fungsi transportasi. Radiasi nonionisasi tampaknya tidak membahayakan kesehatan, tetapi riset di bidang ini masih terus dilakukan.

    d.      Gambaran Klinis Radiasi Ionisasi

    1)      Kemerahan atau kerusakan kulit

    2)      Terjadi mual dan muntah akibat kerusakan saluran cerna, apabila dosis tinggi

    3)      Anemia apabila sumsum tulang belakang rusak

    4)      Kanker, dapat terjadi setelah terpajan beberapa tahun akibat produksi dari kromosom yang pecah, mengalami delesi atau translokasi

    e.       Penanggulangan

    1)      Kerusakan yang disebabkan oleh radiasi ionisasi dosis rendah akan diperbaiki oleh sel dan tidak memerlukan terapi.

    2)       Kanker dapat diobati dengan terapi radiasi, kemoterapi, imunoterapi atau pembedahan.

    4.   Cedera Akibat Mikroorganisme

    Mikroorganisme yang infeksius bagi manusia mencakup berbagai bakteri, virus, mikroplasma, riketsia, klamida, jamur dan protozoa. Sebagian dari organisme ini menginfeksi manusia melalui akses langsung, misalnya inhalasi, sedangkan yang lain menginfeksi melalui transmisi oleh vektor perantara, misalnya melalui sengatan/gigitan serangga.

    Sel tubuh dapat mengalami kerusakan secara langsung oleh mikrooratau secara tidak langsung akibat reaksi imun dan peradangan yang muncul sebagai respons terhadap mikroorganisme. Infeksi sel oleh mikroorganisme dapat menurunkan kestabilan sel sehingga terjadi apoptosis.

    a. Bakteri

    Bakteri adalah organisme bersel tunggal yang hidup bebas dan mampu bereproduksi sendiri tetapi menggunakan hewan sebagai pejamu untuk mendapatkan makanan. Bakteri tidak memiliki inti sel. Bakteri terdiri atas sitoplasma yang dikelilingi oleh sebuah dinding sel yang kaku yang terbuat dari suatu zat khusus yang disebut peptidoglikan. Di dalam sitoplasma terdapat materi genetik, baik DNA maupun RNA, dan struktur intrasel yang diperlukan untuk metabolisme energi. Bakteri bereproduksi secara aseksual melalui replikasi DNA dan pembelahan sel sederhana. Sebagian bakteri membentuk kapsul yang mengelilingi dinding sel sehingga bakteri tersebut lebih tahan terhadap serangan imun pejamu. Bakteri lain mensekresi protein yang menurunkan kerentanan terhadap antibiotik standar. Bakteri dapat bersifat aerob dan anaerob. Seringkali bakteri mengeluarkan toksin yang secara spesifik merusak pejamu.

    Laboratorium sering mengklasifikasikan bakteri sebagai gram negatif atau positif. Bakteri gram positif mengeluarkan toksin (eksotoksin) yang merusak sel-sel pejamu. Bakteri gram negatif mengandung protein di dinding selnya yang merangsang respons peradangan (endotoksin). Bakteri gram negatif juga mensekresi eksotoksin. Bakteri gram positif memberikan warna ungu pada pewarnaan standar laboratorium. Bakteri gram negatif berwarna merah pada pewarnaan laboratorium yang kedua.

    Contoh penyakit pada manusia yang disebabkan oleh bakteri adalah infeksi stafilokokus atau streptokokus, gonore, sifilis, kolera, sampar, salmonelosis, sigelosis, demam tifoid, penyakit Legionnaire, difteri, Haemophilus influenza, pertusis, tetanus, dan penyakit Lyme. Suatu subset bakteri yang sulit diterapi adalah mikrobakteri. Mikroorganisme golongan ini merupakan penyebab penyakit tuberkulosis dan lepra. Menurut hasil penelitian. Individu yang rentan terhadap infeksi beberapa bakteri, termasuk yang disebabkan oleh Mycobacterium dan Salmonella, dikendalikan secara genetik. Variabel lain yang mempengaruhi kemampuan infeksius bakteri meliputi status nutrisi pejamu, ko-infeksi, terpajan pada lingkungan yang terinfeksi mikroba, dan riwayat vaksinasi.

    b. VIRUS

    Virus tidak seperti bakteri, memerlukan pejamu untuk bereproduksi. Virus terdiri dari satu untai DNA atau RNA yang terkandung dalam suatu selubung protein yang disebut kapsit. Virus harus berikatan dengan membran sel pejamu, masuk kedalam sel dan kemudian bergerak ke inti sel pejamu agar dapat bereproduksi. Setelah berada di dalam inti sel, maka DNA virus kemudian menyatu ke DNA sel pejamu untuk memastikan bahwa gen virus akan diwariskan kepada masing-masing sel baru dalam mitosis. Setelah di dalam DNA virus mulai mengambil alih fungsi sel. RNA virus juga mulai mengambil alih fungsi sel. RNA virus juga mulai mengendalikan fungsi sel setelah mereka ditranslasikan menjadi protein.

    Contoh penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus adalah Ensepalitis, demam kuning, campak Jerman, Rubela,Gondongan, Poliomielitis, hepatitis, dan berbagai infeksi virus pada saluran nafas.

    c. Retrovirus

    Jenis virus yang unik adalah retrovirus.Virus ini adalah virus RNA yang mampu menggabungkan diri ke dalam DNA pejamu sebagai akibat kerja enzim reverse transkriptase yang mengubah RNA virus menjadi DNA. Retrovirus membawa reverse transkriptase sebagai bagian dari strukturnya.

    Contoh penyakitnya adalah AIDS yang disebabkan oleh HIV

    d. Mikoplasma

    Adalah mikroorganisme unisel yang sangat mirip kejanya dengan bakteri, kecuali ukurannya yang lebih kecil dan tidak memiliki dinding sel dinding peptidoklikan. Banyaknya antibiotik misalnya golongan penisilin yang bekerja dengan cara merusak dinding sel peptidoklikan, menyebabkan mikoplasma tidak peka terhadap antibiotik ini.

    Contoh penyakit pada manusia yang disebabkan oleh mikoplasma adalah Pneumonia mikoplasma, infeksi saluran nafas atas, dan sebagian infeksi genitalia.

    e. Riketsia

    Memerlukan pejamu agar dapat bereproduksi secara aseksual. Mikroorganisme golongan ini mengandung RND dan DNA didalam dinding sel peptidoklikan yang kaku. Riketsia ditularkan ke manusia melalui gigitan kuku, kepinding atau tungau.

    Contoh penyakit pada manusia adalah tifus dan Rocky Mountain spotted fever.

    f. Klamidia

    Adalah organisme unisel yang bereproduksi secara aseksual di dalam sel pejamu. Mikroorganisme golongan ini masuk secara langsung ke dalam tubuh manusia dan mengalami siklus replikasi.

    Contoh penyakit pada manusia adalah infeksi urogenital yang ditularkan melalui hubungan seksual  dan pneumonia.

    g. Jamur

    Jamur mencakup ragi (yeast) dan kapang (mold). Infeksi jamur superfisial pada manusia mencakup kandidiasis mulut (sariawan), kandidiasis vagina (infeksi ragi), dan infeksi dikulit misalnya tinea  korporis atau kurap (ringworm), tinea  pedis atau kutu air (athlete’s foot), dan tinea kruris (jock itch). Onikomikosis mengacu pada infeksi jamur pada kuku jari kaki dan tangan.

    Infeksi jamur dibagian dalam biasanya terjadi pada orang yang sistem imun nya turun (oportunistik). Infeksi jamur oportunistik mencakup infeksi histoplasmosis dan coccidioidomycosis pada saluran nafas (pada pengidap AIDS).

    h. Parasit

    Protozoa adalah organisme unisel yang mampu menyebabkan infeksi. Infeksi ditularkan secara langsung antar individu melalui air atau makanan yang tercemar, dan melalui vektor (serangga). Contoh parasit adalah Helmintes dan Artropoda.

    Gambaran Klinis

    Infeksi oleh bakteri virus dan mikoplasma sering menimbulkan

    §  Pembesaran kelenjar getah bening regional

    §  Demam

    §  Nyeri tubuh

    §  Ruam atau erupsi kulit

    §  Respon pada area spesifik (faringitis, batuk, otitis media)

    Infeksi oleh klamidia sering menyebabkan :

    §  Uretritis pada pria

    §  Servisitis pada wanita

    Infeksi oleh riketsia sering menyebabkan :

    §  Ruam kulit

    §  Demam dan menggigil

    §  Sakit kepala

    §  Mialgia (nyeri otot)

    §  Pembentukan trombus disuatu organ

    Infeksi oleh jamur sering menyebabkan :

    §  Gatal dan kemerahan dikulit atau kepala

    §  Perubahan warna dan penebalan kuku pada infeksi kuku

    §  Rabas putih seperti krim di vagina

    §  Plak putih dibagian dalam mulut pada sariawan oral

    §  Tanda-tanda pneumonia pada infeksi yang dalam atau pada penjamu yang mengalami gangguan fungi imun

    Infeksi oleh parasit sering menyebabkan :

    §  Diare pada parasit usus

    §  Demam pada malaria

    §  Gatal dan ruam pada infeksi kulit

    PENANGGULANGAN

    1.      Bakteri dan mikoplasma dengan pemberian antibiotik

    2.      Infeksi virus tertentu dengan obat anti virus, infeksi virus lainnya biasanya dibiarkan tumbuh sendiri

    3.      Riketsia dengan pemberian antibiotik tetrasiklin

    4.      Jamur dengan pemberian anti jamur topikal

    5.      Infeksi parasit pada saluran cerna dengan pemberian obat spesifik seperti metronidazol untuk giardiasis. Malaria dengan obat anti malaria.

    C.     MUTASI GEN

    Mutasi adalah peristiwa perubahan genetik (gen ataukromosom) dari suatu individu yang bersifat menurun. Mutasi gen disebut juga mutasi titik (point mutation). Mutasi gen dapat terjadi karena substitusi basa N. Mutasi titik merupakan perubahan pada basa N dari DNA atau RNA. Mutasi titik relatif sering terjadi namun efeknya dapat dikurangi oleh mekanisme pemulihan gen. Mutasi titik dapat berakibat berubahnya urutan asam amino pada protein, dan dapat mengakibatkan berkurangnya, berubahnya atau hilangnya fungsi enzim. Teknologi saat ini menggunakan mutasi titik sebagai marker (disebut SNP) untuk mengkaji perubahan yang terjadi pada gen dan dikaitkan dengan perubahan fenotipe yang terjadi.

    contoh mutasi gen adalah reaksi asam nitrit dengan adenin menjadi zat hipoxanthine. Zat ini akan menempati tempat adenin asli dan berpasangan dengan sitosin, bukan lagi dengan timin.

    Macam-macam mutasi gen antara lain:

    1. Mutasi tak bermakna (nonsense mutatton); terjadi perubahan kodon (triplet) dari kode basa N asam amino tetapi tidak mengakibatkan kesalahan pembentukan protein. Misalnya, uuu diganti uus yang sama -sama kode fenilalanin.

    2. Mutasi ganda tiga (triplet mutations); terjadi karena adanya penambahan atau pengurangan tiga basa secara bersama – sama.

    3. Mutasi bingkai (frarneshift mutattons); terjadi karena adanya penambahan sekaligus pengurangan satu atau beberapa pasangan basa secara bersama – sama.

    Makhluk hidup yang mengalami mutasi disebut mutan dan faktor penyebab mutasi disebut mutagen (mutagenik agent). Mutasi jarang terjadi secara alami dan jika terjadi biasanya merugikan bagi makhluk hidup mutannya.

    Secara garis besar, macam-macam mutagen dapat dibagi tiga, sebagai berikut :

    1. Radiasi

    Radiasi (penyinaran dengan sinar radioaktif); misalnya sinar alfa, beta, gamma, ultraviolet dan sinar X. Radiasi ultra ungu merupakan mutagen penting untuk organisme uniseluler. Radiasi alamiah berasal dari sinar kosmis dari angkasa, benda-benda radioaktif dari kerak bumi, dan lain-lain. Gen-gen yang terkena radiasi, ikatannya putus dan susunan kimianya berubah dan terjadilah mutasi

    2. Zat Kimia

    Mutagen kimia yg pertama kali ditemukan ialah gas mustard (belerang mustard) oleh C. Averbach dan kawan-kawan. Beberapa mutagen kimia penting lainnya ialah : gas metan, asam nitrat, kolkisin, digitonin, hidroksil amin, akridin, dll. Zat-zat kimia tersebut dapat menyebabkan replikasi yg dilakukan oleh kromosom yg mengalami kesalahan sehingga mengakibatkan susunan kimianya berubah pula.

    3. Temperatur

    Kecepatan mutasi akan bertambah karena adanya kenaikan suhu. Setiap kenaikan temperatur sebesar 10oC, kecepatan mutasi bertambah 2 – 3 kali lipat. Tetapi apakah temperatur merupakan mutagen, hal ini masih dalam penelitian para ahli.

     

    Daftar Pustaka :

    Corwin, E.J. 2007. Patofisiologi Ad revisi III. Terjemahan oleh : Nike Budhi subekti.          Jakarta. Buku Kedokteran EGC.

    Anonim. 2010. Patofisiologi .(http://www.yahoo.com.mutagen.Rubbina’s Blog.htm),         diakses 3 September 2010.

    Anonim. 2005. Mutasi Gen. (http://www.wikipedia.com.mutasigen.htm), diakses 3 September 2010.

    About riezakirah

    i am a muslim n try to be a better person for every day..ordinary people.. "Then which of the favours of your lord will you deny (Q.S 55:12)" Lihat semua pos milik riezakirah

    3 responses to “Konsep Patofisiologis

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: